Minggu, 13 Januari 2013



Keiichi Hara, Saya, Hashimoto Ayumi
Karyanya sudah tak asing bagi orang Indonesia. Siapa yang tak tahu Doraemon atau Crayon Shin-chan. Kedua film animasi Jepang tersebut merupakan hasil garapan sutradara Keiichi Hara yang ternyata jatuh cinta pada Indonesia.

Sesekali ia membungkukkan badan dan menyapa tim yang sedang bekerja untuk mempersiapkan acaranya. “konnichiwa,” sapanya pada setiap orang yang ia jumpai. Tak banyak bicara, ia hanya berdiri dan memperhatikan orang-orang yang sibuk mempersiapkan sebuah acara pemutaran film animasi Jepang dan talk show bersama sutrada film Doraemon, Crayon Shin-chan, dan dua film terbarunya yaitu Colorful, dan Summer Days with Coo.

Desember 2012 lalu, Hara diundang oleh The Japan Fondation di Jakarta untuk datang ke Indonesia. Kedatangan ini sekaligus digunakan untuk mengadakan acara nonton film bersama dan talk show di dua kota di Indonesia. Jakarta dan Medan.

Sebagai bintang utama pada acara tersebut sebenarnya ia bisa duduk manis di bangku yang telah dipersiapkan atau hadir dan duduk tepat saat acara dimulai. Tapi Hara, ia menyempatkan diri untuk berkenalan dengan panitia pemutaran film animasinya terlebih dahulu. Seperti yang ia lakukan pada acara pemutaran film animasi Jepang dan talk show di Medan, Desember lalu.

Ditemani oleh seorang pegawai representatif The Japan Fondation di Jakarta, Hara hadir dengan penampilan yang sederhana. Menggunakan baju kaos hitam dilapisi jaket tipis berwarna putih, celana jeans, dan sepatu sporty yang simple. Bukan hanya dalam hal berpakaian, dalam kehidupan sehari-hari pun ia sangat sederhana. Hidup dan tinggal di negara canggih dan serba modern seperti Jepang tak membuat ia turut menikmati semua kemudahan tersebut. Hingga sekarang Hara tidak menggunakan handphone ataupun e-mail. “jika ingin berhubungan dengan saya, temui langsung atau melalui surat,” ujar Hara dalam bahasa Jepang. 

Namun demikian, karya-karyanya tidak sesederhana sikap dan penampilannya. Karyanya dipenuhi rasa hangat dan penuh ide. Keiichi hara lahir di Gunma, Jepang. Sejak tahun 1982 Hara bergabung dengan Shin-ei Animation. Ia memulai debutnya sebagai sutradara untuk film Doraemon, dan sebuah stasiun TV dan serial film Esper Mami dan Crayon Shin-chan.

Selain tiga film animasi yang adapula dua film lainnya yang tak kalah bagus. Colorful dan Summer Days with Coo. Pada tahun 2007, film Summer Days with Coo memenangkan Grand Prize for the 11th Japan Media Arts Festival Animation Division. Dan pada tahun 2010, karyanya Colorful meraih the Special Distinction and Audience Prize pada the 35th Annecy International Animated Film Festival.

Ternyata, ini bukan kali pertama Hara mendatangi Indonesia. Dalam talk show yang diadakan di Medan, melalui seorang penerjemah Hara bercerita bahwa sebelumnya ia juga pernah ke Indonesia, bukan untuk acara resmi melainkan datang sebagai backpacker dan explor. Ia sangat senang bisa kembali lagi ke Indonesia setelah puluhan tahun sejak pertama kalinya mengunjungi Indonesia.  “saya cinta indonesia,” ujar Hara dalam bahasa jepang.

Di Indonesia Hara sempat mengunjungi Bukittinggi, Danau Toba, dan beberapa tempat lainnya di Sumatera hingga Flores. Dan Ubud, Bali menjadi tempat paling berkesan yang ia rasakan. Tak hanya tempatnya, berikut dengan budaya-budaya tradisional tempat tersebut. Hara mengatakan, ia juga sangat menyukai alat musik Gamelan sehingga dalam filmnya Summer days With Coo Hara menggunakan musik Gamelan dalam banyak adegan.

Keiichi Hara : Sederhana, Karya Agung dan Cinta Indonesia

Rabu, 02 Januari 2013



Abang iparnya kepala polisi, mereka tinggal satu rumah. Tiap kali saat makan malam bersama, abangnya selalu memaki orang-orang yang nekat mendirikan negara sendiri.

Sesekali senyum Zakaria merekah, ia tengah senang membayangkan orang-orang pilihan yang akan ikut dalam aksinya nanti sore. Bagaimana tidak, orang-orang pilihan tersebut memiliki kekuatan luar biasa yang diyakininya akan memperlancar aksinya nanti. Geuchik Syawal misalnya, Ia dengar Geuchik syawal mempunyai ilmu menghilang, jadi zat yang tak teraba dan tak tercium dalam kondisi yang diperlukan. 

Geuchik Syawal memiliki azimat tulang kucing hitam mata merah yang merupakan satu-satunya jenis tulang yang mampu memberikan ilmu menghilang tersebut. Kucing hitam mata merah sangat langka untuk ditemukan akibat banyaknya pemburu azimat tulang kucing. Selain itu, proses untuk memperoleh tulang tersebut pun cukup lama. Kucing hitam mata merah yang ditemukan harus dipelihara sampai jinak dan sampai pemiliknya memiliki rasa sayang yang dalam terhadap kucing tersebut. Saat sampai di rasa sayang yang mendalam, itulah waktunya untuk menyembelih kucing hitam mata merah. Setelah disembelih, kucing dikubur di titik pertemuan empat jalan tanpa diketahui seorang pun. Beberapa waktu setelahnya saat dirasa daging kucing telah melebur dengan tanah, kuburan kucing digali dengan mengajak seorang teman. Karena tidak semua tulang kucing tersebut yang bisa menjadi azimat. Seorang teman akan melihat tulang mana yang saat dipegang akan membuat si pemilik kucing mampu menghilang.

Azimat kucing juga mampu membuat orang yang menggandeng tangan pemilik azimat ikut menghilang. Itulah alasan kenapa Zakaria mengajak Geuchik Syawal ikut dalam aksinya.

Selain Geuchik Syawal, Zakaria mengajak Taufik, seorang temannya sejak kecil. Tak ada yang begitu istimewa dari Taufik hanya saja Ia adalah teman yang cukup setia bagi Zakaria. 

Sore yang dijanjikan pun tiba. Kali ini Ia akan melaksanakan tugas dari kakak perempuannya untuk mengantarkan sebuah barang rahasia. Dengan riang dan tenang ketiga lelaki tersebut menempuh perjalanan menggunakan truk. Berjam-jam waktu telah terlewati bersama truk, tiga lelaki, dan muatan rahasia. Pos jaga ada di mana-mana yang membuat mereka seharusnya tetap waspada namun, ini tidak terjadi pada Zakaria. Ia tenang dengan keyakinan terhadap ilmu menghilang Gheucik Syawal.

  “Kalau bisa mobil ini juga tak terlihat, Chik Wal,” cetus Zakaria yang dibalas gelak tawa Geuchik Syawal.

Di tengah-tengah perjalanan, dari kejauhan tampak sorot cahaya lampu mobil-mobil. Zakaria tak lagi tenang. Mereka akan mengalami masalah besar pikirnya. Seketika, truk yang sedari tadi dikemudikan oleh Geuchik Syawal berhenti. Dipandangnya Geuchik Syawal yang terburu-buru keluar dari truk dan berlari ke arah kebun. Ia berpikir bahwa Geuchik Syawal tengah menyiapkan azimat untuk membuat mereka menghilang bersama. Namun, tiba-tiba Taufik dengan sigapnya ikut melompat keluar dari truk, berlari ke arah kebun yang sama dan menghilang dalam gelap. Zakaria hanya mampu terkesima. 

            Sepenggal cerita dari cerita pendek  Zakaria tersebut merupakan cerpen kedua dalam buku kumpulan cerpen karya Linda Christianty. Dalam buku yang memuat sepuluh karya cerpen Linda ini dibuka dengan cerita pertama berjudul Ketika Makan Kepiting. Yaitu sebuah cerita yang menghadirkan tokoh utama yang penuh imajinasi. Dengan cerita masa lalunya bersama keluarga tiri yang membuat ia selalu tidak kebagian makan daging kepiting.

 Banyak isu sosial yang dijadikan tema dalam beberapa cerpen Linda dalam buku ini. Mulai dari pergerakan GAM di Aceh seperti dalam cerpen Zakaria, kisah seorang cucu dari kakek pemberontak, kekerasan dalam rumah tangga oleh pasangan sesama jenis, konflik Afghanistan, hingga sebuah cerpen tentang Luta seorang manusia yang hidup abadi di Kalimantan.

Seperti karya-karyanya yang lain Dari Jawa Menuju Atjeh yang merupakan kumpulan tulisan tentang politik, islam, dan gay, di sini Linda juga membumbui konflik politik, agama, dan gender sehingga cerpen-cerpennya terasa tajam dan cukup berat bagi penggemar cerpen melankolis. Namun, ada juga beberapa cerpen yang membawa pembaca ke dalam suasana penuh perasaan. Sebuah cerpen berjudul perpisahan cukup berhasil membawa pembaca ke dalam suasana sepi dan perasaan ditinggalkan meski hanya disajikan dengan dialog sederhana antara Hans dan seorang tokoh tanpa nama.

Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini sangat baik tersaji dengan variasi tema yang berbeda dari tiap cerpen. Setiap cerita memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda dari cerita sebelumnya. Hanya saja dalam cerpen terakhir yang mengisahkan Luta manusia abadi disajikan dengan cara penulisan hampir seperti artikel sehingga agak sedikit bosan.

 Cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku ini juga telah dimuat dalam beberapa media nasional seperti harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jurnal prosa, dan beberapa situs internet.  Buku ini cocok untuk pembaca yang menyukai tulisan-tulisan tajam .

Judul                           : Seekor Anjing Mati di Bala Murghab
Penulis                         : Linda Christanty
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                :2012
Jumlah Halaman          :131 halaman


Memandang Konflik dalam Fiksi

Minggu, 02 Desember 2012



Setelah lama ia tak menangis, hari itu ia menangis
Ia menangis sejadi-jadinya
Hingga sesak, hingga matanya sembab
Hingga kakinya gemetar
Hingga jantungnya terus berdegup kencang
Ia hanya mampu duduk dan terdiam
Sesaat..
Ia berusaha, berusaha mencari sandaran
Tapi hari itu sulit untuk menemukannya
Ia hanya butuh meluapkan semuanya
Melalui tangisan, tangisan hebat di sore itu
Ia masih butuh sandaran meski telah menangis sepuasnya
Ia butuh didengarkan
Ditemukannya..
Ia luapkan semua emosinya
Ia teriakkan semuanya
Hingga ia lelah, bersandar dengan tubuh gemetar
Lama sekali ia merasa sesak
Masih dengan detakan jantung yang begitu cepat
Masih dengan tubuh yang gemetar hebat
Masih dengan mata yang sembab
Hari itu ia benar-benar lelah
Saking lelahnya ia tak kuasa untuk membuka mata
Terlelap
Ia terlelap dengan tenangnya
Hingga ia lupa apa yang menyebabkan pecahnya tangis di sore tadi

Penyebab Tangisannya