Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

Ushering the dusk | field, dusk, sun, grass
Senja mengapa kau tampak begitu gersang
Senja apakah kau lelah? Kau tampak begitu kering
Cahayamu tak lagi hangat
Cahayamu terik tak ubahnya siang
Senja cahayamu tak lagi serasi dengan dahan hijau
Kau bersahabat dengan dahan kering sekarang?
Senja, tak kah kau rindukan hijau?
Bahkan taman sebelah pun tak lagi hijau
Serupa denganmu Senja, kering, menguning
Senja, jangan-jangan kau marah?
Melampiaskannya pada rumput yang menguning
Menghantam dahan yang kering
Senja, kau..
Senja, Selasa 18 Februari 2014
16.18 WIB


Senja, Kau...

Selasa, 07 Januari 2014

Berdiri di pagi disayat embun
Terpecah sinar membakar luka
Memeluk senja dibuai sepi
Dijemput gelap menari cekam
Seberkas hati mengais kisah
Sedepa merangkak dibelai badai
Tak kuasa menggeram hati berpulang
Kisahku merajuk
Pergi tak berkata

Pergi Tak Berkata

Minggu, 07 Juli 2013


Angin melanda rumput merana
Memporak-porandakan kawanan rumput hingga ke akar
Masih menggila, angin menghancurkan lapangan kering penuh dilema
Rumput bergoyang tak tentu arah hingga hancur
Angin pun berlalu
Rumput merana masih diam meratapi keganasan angin
Matahari kembali melambai
Memaksa memberikan teriknya untuk rerumputan malang
Mengering hingga menguning
Seluruh kawanan mengering di lapangan luas
Tak terhingga banyaknya rumput menguning
Jauh mata memandang masih tampak kuning dan hancur
Sayang, hujan tak mau menyapa
Lama mereka tak disinggahi hujan hingga benar-benar lupa bagaimana bentuk hujan
Beberapa pasang mata sedang mengawasi
Menginjak dan meludahi kawanan rumput merana
Berharap mereka kelelahan dan meneguk air di atas rerumputan
Bukan apa-apa hanya berharap beberapa tetes air jatuh
Tamu baru itu benar-benar minum, secerca harapan mulai nampak
Sayang lagi tak setetes pun air terjatuh
Satu benda dari tangan lain terjatuh
Cahaya berpendar merah dan berasap
Sebatang benda kecil dijatuhkan, lebih tepatnya dibuang
Pendarnya membara, dari bara kecil menjalar ke badan rumput merana
Tanpa disangka angin kembali datang penuh suka cita
Pendar berubah menjadi cahaya yang begitu menyilaukan
Yang kering tak lagi menguning
Sekarang semua hitam dan menjadi abu
Tamat sudah riwayat rumput merana

Rumput Merana


Dia merasa orang suci
Orang suci yang berada disekitar orang kotor
Ia melihat kotoran disetiap tubuh orang lain
Tanpa ia sadari sesungguhnya ia melihat kotoran di tubuhnya sendiri
Ia berkoar tentang bagaimana ia bertindak
Begitu suci tanpa noda
Katanya ia hidup mengeluarkan kejujuran
Penipuan bukan jalan hidupnya
Tanpa ia sadari orang-orang menemukan kebohongan di setiap katanya
Dia masih merasa orang suci
Bersikap seakan jijik dengan kemunafikan
Bersikap seakan ia korban kebrutalan dunia
Tanpa ia sadari orang lain melihat darah menetes dari pisau yang ia pegang
Masih saja ia merasa suci
Berusaha mencari kambing hitam atas kelakuan buruknya
Mencari mangsa untuk ditipu dan dirayu
Sayang, dia penggoda yang menyesatkan
Dia tetap orang suci
Orang suci untuk mereka yang terlena akan tipu daya
Wahai kau yang merasa suci, ini untukmu
Agar kau tahu
Kau terlihat menyedihkan, kotor dan busuk


Orang Suci


Jangan berharap, sedikit pun jangan
Jangan menunggu, sebentar pun jangan
Jangan menduga, apa lagi menyimpulkan
Kau tak tahu, fakta berjalan diam dibelakangmu
Tanpa suara apa lagi pemberitahuan
Waktu terus berjalan, tanpa peduli perasaanmu
Fakta bermunculan, tanpa peduli perasaanmu
Kebenaran terungkap, tanpa peduli perasaanmu
Yang berkeinginan tetap wujudkan keiinginannya
Yang berbahagia tetap terlarut dalam suka
Yang bersedih tetap terlarut dalam duka
Dan dirimu, tetap bersama perasaanmu
Perasaan apa pun itu
Jangan pikir ada yang peduli
Tak ada, tak ada yang peduli
Jangan salah duga, manusia bertopeng bisa pura-pura peduli
Topeng hanya peduli apa saja yang bersinggungan dengan hidupnya
bukan dirimu
Hanya dirimu yang peduli perasaanmu sendiri
Hanya dirimu yang tahu
Hanya dirimu yang tahu bagaimana mengatasi semua perasaanmu


Sendiri Bersama Rasa

Sabtu, 23 Februari 2013




Tampaknya ia tak terbiasa sendiri
Ia selalu takut saat sendiri
Ia sering menyebutnya seperti penyakit
Sebuah penyakit yang membuatnya takut sendiri
Tapi kurasa ia kesepian
Sebelumnya, ia terbiasa bercanda bersama keluarga
Melewati hari penuh keramaian
Kehangatan dan keributan dari sembilan orang anak lelakinya
Bisa kubayangkan bagaimana ramainya waktu itu
Satu per satu anak lelakinya pergi meninggalkan rumah
Menemukan rumah sendiri dan bersama keluarga baru
Suaminya pun turut pergi meninggalkannya di rumah
Bukan untuk rumah baru, melainkan tempat peristirahatan terakhir
Anak lelaki terkecilnya pun sudah meninggalkannya
Sekarang ia benar-benar sendiri
Melewati hari-hari sepi

Saat Senja

Minggu, 02 Desember 2012



Setelah lama ia tak menangis, hari itu ia menangis
Ia menangis sejadi-jadinya
Hingga sesak, hingga matanya sembab
Hingga kakinya gemetar
Hingga jantungnya terus berdegup kencang
Ia hanya mampu duduk dan terdiam
Sesaat..
Ia berusaha, berusaha mencari sandaran
Tapi hari itu sulit untuk menemukannya
Ia hanya butuh meluapkan semuanya
Melalui tangisan, tangisan hebat di sore itu
Ia masih butuh sandaran meski telah menangis sepuasnya
Ia butuh didengarkan
Ditemukannya..
Ia luapkan semua emosinya
Ia teriakkan semuanya
Hingga ia lelah, bersandar dengan tubuh gemetar
Lama sekali ia merasa sesak
Masih dengan detakan jantung yang begitu cepat
Masih dengan tubuh yang gemetar hebat
Masih dengan mata yang sembab
Hari itu ia benar-benar lelah
Saking lelahnya ia tak kuasa untuk membuka mata
Terlelap
Ia terlelap dengan tenangnya
Hingga ia lupa apa yang menyebabkan pecahnya tangis di sore tadi

Penyebab Tangisannya

Minggu, 11 November 2012



masih mencari tempat yang tepat

 Aku berlari, berlari untuk mencari tempat yang tepat

Tempat yang sepi dan tenang

Tempat yang tak ada siapa-siapa di sana

Makin jauh lebih bagus, agar tak ada yang dapat menemukanku

Kalau bisa tempat itu menyuguhkan pemandangan langit yang indah

Agar aku mampu menatap indahnya bintang di malam hari

Agar aku mampu merasakan lembutnya awan di malam hari

Jika sudah ditemukan beri tahu aku segera

Aku akan segera ke sana membawa semua penat ini

Aku akan segera ke sana membawa semua rasa lelah ini

Jangan lupa, tempat itu harus jauh dari keramaian

Supaya saat aku berteriak tak akan ada yang mendengar

Supaya saat aku membuang semua rasa penat ini tak akan ada yang melihat

Supaya saat aku merebahkan diri, menghadap ke langit tak akan ada yang mengganggu

Supaya aku bisa istirahat selama mungkin dari rasa lelah ini

Jika benar-benar sudah ditemukan segera beri tahu aku

Aku akan berlari ke sana

Membawa semua kekesalan dan kebodohan diri ini

Oh iya, aku lupa menambahkan sesuatu

Saat membawaku ke sana nanti, tutup mataku dan jangan beri tahu aku cara untuk ke sana

Setelah sampai, tinggalkan aku sendiri

Pergilah dengan diam-diam, dan jangan meninggalkan jejak

Jangan beri tahu aku jalan pulang, supaya aku tak bisa kembali lagi

Tempat yang Tepat