Tampilkan postingan dengan label melancong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melancong. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015


Tepi Pantai Turelotu, Foto: Renti Rosmalis

Mendengar kata Laut Mati pikiran anda mungkin akan langsung tertuju pada laut dengan kadar garam tertinggi yang ada di Yordania. Itulah laut mati yang selama ini kita ketahui. Namun, tahukah anda bahwa Sumatera Utara punya pantai yang membuat anda merasa sedang berada di Laut Mati? Pantai indah dan mempesona tersebut berada di Kabupaten Nias Utara. Tepatnya di Kecamatan Lahewa.
Dari segi geografis, Nias Utara dikelilingi oleh banyak pantai. Sehingga memungkinkan Nias Utara untuk menyimpan kekayaan alam berupa pantai yang indah. Termasuk pantai yang mampu membuat anda terapung layaknya laut mati di Yordania. Pantai ini dikenal dengan nama Pantai Ture Lotu meski nama sebenarnya adalah Ture Galoko.
Bagaimana caranya menuju ke sana? Bisa dibilang tidak mudah.
Pertama, hilangkan dulu pandangan negatif tentang pulau ini. Tak perlu khawatir jika anda tidak berniat lakukan hal-hal buruk. Warga akan sangat ramah jika kita juga bersikap ramah.
Ada dua jalur yang bisa ditempuh menuju Nias. Pertama jalur udara, yaitu terbang dari Bandara Kuala Namu Medan menuju Bandara Binaka yang berjarak sekitar  17 Km dari Gunung Sitoli. Gunung Sitoli adalah Ibukota Nias.
Jika memilih jalur darat, dari Medan anda akan menuju Sibolga. Hanya ada Bus atau taxi  yang akan membawa ke Sibolga. Dengan biaya sekitar Rp 150 ribu anda akan diantar ke pelabuhan Sibolga menuju Gunung Sitoli.
Kapal menuju Gunung Sitoli pun tak selalu ada dalam waktu yang berdekatan. Ada dua kapal yang biasanya mengantar penumpang menyeberang.
Warga biasa menyebutnya Kapal Jumbo untuk kapal yang berangkat setiap jam 09.00 pagi di hari Senin. Kapal ini hanya beroperasi pada hari Senin saja. Lama perjalanan empat jam dengan harga tiket Rp180 ribu.
Sementara  Kapal Feri berangkat setiap hari pada pukul 19.00 Wib. Kapal dengan muatan besar ini mengantarkan penumpang dengan fasilitas  kelas ekonomi dan bisnis. Untuk kelas ekonomi harga tiket berkisar Rp 70 ribu, dan Rp 100 ribu untuk kelas bisnis. Lama perjalanan adalah 12 jam.
Hindari calo untuk dapatkan biaya tiket normal, biasanya banyak calo yang menawarkan jasanya di pelabuhan. Sebaiknya langsung saja cari loket resmi yang berada dekat pelabuhan.
Tiba di Gunung Sitoli, carilah penginapan atau segeralah kunjungi rumah tujuan anda. Pahami dulu kondisi tempat tujuan anda dan siaplah memulai petualangan di Nias. Baik ke arah utara maupun selatan sama saja. Nias selalu tawarkan keindahan pantainya dari Utara hingga Selatan.

Mengapung, Foto: Renti Rosmalis
Mengapung, Foto: Renti Rosmalis

Karena tujuan kita kali ini Laut Mati ala Nias Utara, maka perjalanan kita akan menuju ke arah utara. Tak banyak moda tranportasi yang ada di Nias. Tak ada angkot atau ojek. Namun kita bisa gunakan jasa sewa mobil atau motor yang ada di Gunung Sitoli.
Untuk mobil, harga sewa sekitar Rp 500 ribu per hari, dan Rp 100 ribu untuk sepeda motor. Namun, jika punya kenalan warga sekitar, kita bisa saja dapatkan harga sewa motor Rp 50 ribu. Itu pun jika beruntung.
Dari Gunung Sitoli menuju Kecamatan Lahewa, Nias Utara membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Jalanan utama cukup mulus, namun ketika sudah mulai memasuki Kecamatan lahewa jalan mulai sedikit berbatu. Namun ini tak lama, jalan akan kembali membaik.
Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan indahnya pantai-pantai di Nias. Semua pantai di Nias bisa dibilang masih perawan, semuanya biru dan sepi.
Akan ada beberapa persimpangan menuju Pantai Ture Lotu. Saat masih dijalanan utama kita akan temukan petunjuk arah. Namun saat sudah mulai masuk ke Lahewa, petunjuk arah adalah warga sekitar.


Dermaga Nelayan, Foto: Renti Rosmalis
Dermaga Nelayan, Foto: Renti Rosmalis

Tanyalah jalan saat berada di perkampungan yang cukup ramai, karena warga yang berada di perkampungan yang sepi masih banyak yang belum bisa berbahasa Indonesia.
Ketika motor sudah menemukan banyak pepohonan cemara yang berbaris rapi artinya pantai sudah dekat. Siap-siap disambut oleh tenangnya Pantai Ture Lotu.
Selain hari libur pantai ini serasa milik sendiri. Sepi seperti pulau tak berpenghuni. Hanya ada kapal nelayan dan satu dua rumah nelayan di tepi pantai.
Ture Lotu memiliki pantai yang tenang tanpa ombak. Di tepi pantai terdapat gugusan karang-karang berukuran besar dan kecil yang terlihat seperti punggung kura-kura. Airnya biru dan jernih hingga ikan-ikan kecil di karang pun bisa langsung terlihat dari atas.
Jika membawa alat snorkeling, akan sangat menyenangkan.

IMG_1536
Kapal Nelayan, Foto: Renti Rosmalis

Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah mengapung. Ya, pantai ini memiliki kadar garam yang cukup tinggi. Sehingga memungkinkan kita untuk mengapung dalam keadaan tubuh yang tenang. Karena kadar garam yang tinggi ini juga, mata akan terasa lebih perih dari pantai biasanya. Apalagi jika hari sedang panas-panasnya, wah siap-siap dengan perubahan warna kulit anda.
Karena tak ada aktifitas di hari biasa, jangan lupa bawa sendiri makanan anda. Tak ada warung di sekitaran pantai.
Setelah puas bermain-main di Laut Mati ala Nias Utara ini, bergegaslah sebelum senja. Jalanan akan sangat sepi saat mulai malam. Untuk menghindari hal-hal yang berbahaya segeralah pulang dan jangan lupa untuk bertegur sapa dengan warga yang ditemui di jalan.
Bagaimana? Berniat untuk kunjungi Laut Mati kita?

Sensasi Mengapung di Laut Mati Nias Utara

Sensasi Jeram Ngehek, Foto: Febri Hardiansyah Pohan

Bagi pecinta olahraga alam rafting, Sei bah Bolon mungkin tak asing lagi. Namun bagi orang awam yang tak kenal rafting harusnya jangan mau kalah! Sei bah Bolon tak hanya untuk pecinta rafting. Semua bisa nikmati suguhan alam yang mempesona ini.


Green Canyon adalah salah satu tempat yang masuk ke dalam wishlist saya. Pesona sungai yang diapit oleh dinding-dinding tinggi dan hijau, suasana seperti latar di film-film fantasi cukup membuat saya ngiler.
Hingga di suatu siang yang terik, di kedai kampus yang bising seorang teman tergopoh-gopoh menunjukkan android nya. “Cieee android baru, kemek-kemek lah ” ujarku menggoda. “Bukan itu, Green Canyon Ala Sumatera Utara!” sanggahnya yang ternyata menunjukkan artikel tentang sungai Sei Bah Bolon yang digadang-gadang memiliki latar mirip Green Canyon yang ada di seberang pulau sana.
What? Kemana aja kita, kok baru tahu!
Mungkin karena letaknya yang membutuhkan perhatian yang khusus dan arung jeram adalah salah satu cara untuk menikmati nya membuat tempat ini jarang mampir di lini masa.


Jeram Ngehek, Foto: Yovie Richard
Jeram Ngehek, Foto: Yovie Richard

Sei Bah Bolon terletak di perbatasan Kecamatan Sipispis dan Dolok Merawan. Sungai ini mengalir dari pegunungan Simalungun melewati kabupaten Serdang Bedagai. Jarak 90 km dari Medan itu bisa ditempuh sekitar tiga jam menggunakan kendaraan bermotor.
Saya sempat tertipu dengan artikel yang bilang jalanan di sana cukup baik. Zong! Jalanan menuju Kec Sipispis lumayan bikin merana. Mungkin menggunakan sepeda motor lebih enteng.
Kembali ke masa perencanaan tadi, bersama tim anakusu.com saya diskusikan tempat ini. Karena tak tahu banyak tentang lokasi ini, ditambah arung jeram bukanlah jenis kegiatan yang bisa dilakukan tanpa bantuan peralatan lengkap dan professional skipper,  pencarian bantuan pun dilakukan.
Cari-cari di Instagram, takdir mempertemukan saya dengan akun @jelajah_acsu. Inilah tour and adventure organizer yang membawa saya dan seorang teman mengarungi Sei Bah Bolon dari Medan.
Perjalanan pun dipersiapkan. Jika menggunakan jasa travel kita hanya perlu mempersiapkan stamina dan kebutuhan pribadi seperti makanan tambahan. Jika pergi sendiri tanpa dampingan jasa tour and travel jangan lupa semua persiapan seperti kondisi kendaraan dan mengetahui rute perjalanan.
Setelah tiga jam perjalanan, kita akan disambut dengan pos yang menyediakan semua peralatan yang kita butuhkan termasuk skipper.

Menuju Titik Awal, Foto: Febri Hardiansyah Pohan
Menuju Titik Awal, Foto: Febri Hardiansyah Pohan

Intruksi pertama yang saya terima adalah mengamankan barang-barang berharga agar tidak dibawa ber-arung jeram . Bahaya, nanti hilang. Terkecuali jika kita membawa drybag. Jika ingin mengambil gambar, sebaiknya gunakan camera under water atau handphone yang telah dilindungi anti air.
Bersama dua puluh orang yang berangkat bersama saya dari Medan tadi, kami diintruksikan lagi untuk menggunakan semua peralatan seperti helm, life jacket, dan dayung.
Menggunakan truk terbuka kami semua diboyong ke hulu sungai selama sekitar satu jam. Jalan yang dilewati pun bergelombang, sensasi terhempas gelombang jalan  dimulai.

Dinding-Dinding Menawan, Foto: Renti Rosmalis
Dinding-Dinding Menawan, Foto: Renti Rosmalis

Setelah sampai, tim akan dibagi menjadi tiga. Satu boat berisi 6 atau 7 orang. Intruksi selanjutnya adalah berkumpul dan mendengar pesan dari skipper untuk cara ber-arung jeram yang aman. Intinya, sungai ini cukup aman untuk pemula. Jika terjatuh yang harus dilakukan adalah jangan panik. “Jika terjatuh, jangan panik! Biarkan arus membawa ke aliran yang tenang,”katanya.
Setelah berdoa, pengarungan pun dimulai.
Pertama-tama kita seolah memasuki gerbang misterius yang gelap. Ah, saya berlebihan. Mungkin gerbang yang dingin, diapit dinding-dinding batu yang tinggi dan beralaskan air tenang yang hijau. Cara mendayung yang diajarkan tadi mulai kami praktikkan. “Dayung maju!” perintah skipper. “Maju-maju cantik, cantik!” tim mendayung dengan semangat.

Air Terjun Bah Gula, foto: Yovie Richard
Air Terjun Bah Gula, foto: Yovie Richard

Selama pengarungan saya tak bosan, pemandangan yang mempesona ini cukup membuat takjub. Saya tak jadi ngiler Green Canyon yang di seberang sana, pernyataan teman yang telah mengarungi keduanya cukup melegakan hati. “Green Canyon yang di Pangandaran mah kalah sama yang ini,” katanya walaupun entah itu hanya tipuan muslihat semata. Setidaknya saya terhibur.
Baru satu jam pengarungan, suara deru air semakin terdengar. Di depan ada air terjun setinggi lebih kurang 20 meter. Namanya air terjun Bah Gula.
“Masuk kita ya!” ujar skipper.
Ha? Apanya yang masuk pikirku.
Ternyata kami akan masuk ke dalam air terjun. Intruksi kali ini tak hanya dayung maju, tapi dayung mundur pun digunakan. Dayung maju dan mundur, keluar dan masuk ke air terjun ya.
Di sekitar air terjun arus cukup deras. Jadi kami harus mendayung cukup kuat dan kompak. Sensasi dihujami air terjun dari atas boat ini tak boleh dilewatkan. Sekujur tubuh basah, pemanasan yang menyenangkan.
Perjalanan kami lanjutkan hingga menemukan jeram-jeram yang cukup membuat berteriak. Terangkat dan terhempas jeram. Jika aliran tenang kami turun ke air dan berenang. Sebentar berfoto-foto di dinding-dinding yang unik. Jika haus, dinding-dinding ini banyak yang mengeluarkan mata air jernih siap santap kapan saja.

Berenang, Foto: Yovie Richard
Berenang, Foto: Yovie Richard

Ada satu jeram yang cukup berkesan di sini. Namanya jeram “ngehek”. Katanya jeram ini bisa buat kita terngehek-ngehek. Entahlah, saya pun tak begitu paham bagaimana rasanya terngehek-ngehek.
Pertama kita mendayung dengan semangat ke arah jeram di depan, menabrak arus, terangkat lalu terhempas. Lumayan pikirku.
Ingin merasakan sensasi yang lebih kami memutar arah kembali ke arus. Boat kembali ke jeram dan masuk. Terguncang oleh arus hingga boat terbalik dan jatuh. Ini baru ngehek pikirku.
Selanjutnya masih banyak jeram-jeram menanti, dinding-dinding yang bisa dijadikan tempat uji adrenalin. Ada batu setinggi sekitar 4-5 meter yang siap menyajikan lahan uji nyali dengan melompat.

Melompat dari Ketinggian, Foto: Renti Rosmalis
Melompat dari Ketinggian, Foto: Renti Rosmalis

Lima jam pengarungan cukup bagi saya. Tidak terlalu lelah, hanya kelaparan. Saya ingatkan, nanti jika ingin melakukan pengarungan pastikan kondisi perut dalam keadaan aman, Oke?
Aliran sungai membawa kami kembali ke lokasi pos, tempat semua peralatan kami. Di sana, nasi soto ayam telah menanti. Yang tak sabar langsung menyantap makanan. Yang maha sabar sanggup mengganti pakaian dulu baru makan.

Satu Tim, Foto: Yovie Richard
Satu Tim, Foto: Yovie Richard

Sambil makan kita bisa dengarkan cerita-cerita perjalanan para skipper atau mendengar cerita perjalanan teman-teman satu tim. Kemanapun mereka telah pergi, kami pernah berada di perjalanan yang sama.
Selesai makan, dan bercengkrama, hari mulai gelap. Kami bergegas kembali ke Medan. Karena lelah, biasanya mata mengantuk. Untuk yang membawa kendaraan sendiri seperti sepeda motor harus benar-benar hati-hati agar bisa lanjutkan perjalanan ke tempat-tempat indah lainnya.
Dari semua premis-premis yang saya jelaskan tadi, maka kesimpulannya. Kalian harus rasakan indahnya Sei Bah Bolon. Ingat pepatah Go someplace you’ve never been before dan bersenang-senanglah.

Pengarungan di Green Canyon Ala Sumatera Utara




Ia terletak di atas perbukitan yang tinggi. Jalan menuju ke tempat ini tidaklah mudah. Naik turun bukit dan melewati jalan dengan fasilitas yang sangat minim. Namun, desa ini mampu memberikan pesona alam yang menyegarkan pikiran.

Negeri suah adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sibolangit. Letaknya yang berada di atas bukit, membuat tempat ini tak begitu ramai dikunjungi. Ada dua jalur yang bisa dilewati untuk mencapai tempat yang berada di pedalaman Sibolangit ini. Pertama melewati rute Medan- Delitua-Desa Penen- Desa Cinta Rakyat dan sampailah di Negeri Suah.

Kondisi jalan menuju Negeri Suah cukup mengkhawatirkan. Jalanan mendaki dan rusak, serta becek saat setelah hujan. Melihat kondisi jalan yang seperti ini, sepeda motor adalah pilihan moda transportasi yang tepat.

Namun, saat melewati rute ini kita bisa mampir di Desa Penen. Di Desa Penen terdapat gua yang didalamnya ada kolam pemandian air panas. Gua Penen namanya.


Jika tak berniat mampir di Desa Penen, ikuti saja rute kedua. Yaitu rute dari Medan- Bandar Baru/Sibolangit. Pada rute ini, jalanan tak separah di rute sebelumnya. Meski ketika sudah dekat dengan Desa Negeri Suah masih juga ditemukan jalan-jalan rusak parah dan bekas longsor.

Lupakan urusan jalan yang jelek tadi. Baik dari rute pertama ataupun kedua, perjalanan akan disuguhkan dengan suasana asri pegunungan. Jika rute pertama akan banyak bukit-bukit tinggi yang terlihat, maka di rute kedua akan melihat banyak persawahan dengan sengkedan-sengkedan yang memukau. Sengkedan di Bandar Baru cukup membuat takjub, dibalik bukit-bukit yang tinggi tersimpan keindahan yang mampu menenangkan hati.


Negeri Suah memberikan suasana yang benar-benar jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota. Bahkan berbeda dari tempat-tempat wisata alam yang biasanya kita jumpa di sekitar Medan tak sesunyi ini.

Nah, apa yang didapat di Negeri Suah? Selain pemandangan alam yang indah ada air terjun, sungai dengan aliran panas dan dingin. Bonus dari semua itu adalah rumah-rumah panggung tradisional yang berada disekitaran sungai. Perkampungan ini sepi, hanya ada beberapa rumah yang berkumpul di satu wilayah itu saja. Berada di tengah-tengahnya kita akan lupa bahwa beberapa jam lalu masih di keramaian kota. Bisa dibilang seperti kota terpencil di atas gunung.


Kendaraan yang kita bawa bisa dititipkan di Jambur (balai desa) warga, tempat itu biasa disulap jadi parkiran. Bayarnya pun seikhlasnya diletakkan di dalam kotak.
Dari tempat parkir, kita bisa memilih arah kiri atau kanan terlebih dahulu. Kanan atau kiri sama saja. Kalau begitu kita ke kanan saja duluan. Berjalan sekitar kurang dari seratus meter ke dalam, suara gemuruh air terjun mulai terdengar. Air Terjun Negeri Suah tingginya sekitar 20 meter. Dinding-dinding air terjun ini tidak curam sehingga air tidak jatuh dengan bebas. Air jatuh di pinggir-pinggir batu. Jika dilihat, air terjun ini mirip dengan air terjun yang ada di Pulau Mursala.


Di depan air terjun, ada aliran sungai jernih dan hamparan persawahan yang menyejukkan mata. Ketika di sini, air cukup segar dan dingin.

Selanjutnya kita bisa naik kembali ke tempat parkir kendaraan tadi dan menuju kearah kiri. Biasanya warga menyebutnya sungai air panas.
Sekitar 100 meter masuk ke dalam rimbunan pohon, kita akan disambut dengan bau belerang dan gemuruh air terjun kecil di sepanjang menuju tepi sungai. Rumput-rumput menuju sungai ini cukup tinggi. Ketika membalikkan rumput yang tinggi, terlihatlah sungai dengan warna biru agak putih.

Di tepi sungai banyak pohon-pohon khas gunung api. Pohon-pohon ini jarang terlihat di sungai biasa. Kami juga kurang tahu apa nama pohonnya. Namun, kehadiran pohon yang berjejer di tepi sungai menambah kesan spesial tempat ini.

Di batu-batui sungai ada sumber mata air panas yang langsung mengalir ke arah air dingin. Mungkin karena inilah tempat ini juga sering disebut sungai dua rasa. 

Arus air yang ada tak terlalu deras sehingga kita bisa meyegarkan badan dengan mandi-mandi. 

Sementara, tak jauh dari sungai ini, sekitar 3 km terdapat objek wisata lain. Masih di wilayah Negeri Suah, ada wisata Air Terjun Sempuren putih. Air terjun juga ada air panasnya. Warna sungai juga biru agak putih. Yang terlihat, air terjun ini hanya setinggi 3 meter, namun sebenarnya itu hanya tingkatan paling bawah. Jika ditelusuri, air terjun ini bisa mencapai 100 meter.


Setelah puas menikmati semua sungai yang ada di Negeri Suah, kita bisa beranjak untuk pulang melewati Bandar Baru.

Perjalanan pulang akan sangat menyenangkan karena kita akan melewati hamparan persawahan dengan sengkedan yang indah.

Begitulah perjalanan di Negeri Suah, sebuah desa terpencil di pedalaman Sibolangit yang terletak di atas gunung. Negeri Suah bisa jadi pilihan untuk habiskan hari libur anda. Namun, saat ke sini, jangan malu untuk bertanya jika tah tahu jalan. Dan bersiap-siaplah untuk menambah stamina kendaraan anda. Atau gunakanlah kendara yang cocok untuk melewati jalur yang cukup sulit ini.


Negeri Suah, Pesona di Pedalaman Sibolangit


Banyak rumah yang telah musnah, paru-paru dunia tak lagi sehat. Ini bukan perkara alien atau monster yang datang menyerang. Ini tentang kita! Manusia yang datang hanya untuk menikmati , lalu pergi meninggalkan kerusakan. Bisakah kita datang lalu meninggalkan hadiah?

Ini cerita saya dan beberapa teman yang ingin bertamu ke rumah Orang Utan namun tak ingin jadi monster. Yang ingin menghirup udara segar dari paru-paru dunia tanpa meninggalkan kerusakan. Pasalnya, kami akan membawa banyak rombongan, sekumpulan pegiat jurnalis kampus yang butuh refreshing. Membawa banyak orang ke kawasan pariwisata dan cagar alam agak ngeri-ngeri jambu, silap-silap justru merusak lingkungan.

Akhirnya, setelah rapat hingga larut, mencari kesepakatan yang sebenarnya nggak pernah hilang ketuk palu pun dilakukan. Kami akan liburan selama tiga hari di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Di kawasan ini juga mengalir Sungai Bahorok, Bukit Lawang yang jernih dan menggairahkan.


“Nah, di sana kita ngapain? Ada apa aja?” tanya seorang teman.

Karena kita nggak mau liburan ini jadi perjalanan kosong hampa tanpa bayang-bayang kebajikan. Di sana kita nggak sekedar tengok kanan kiri, atau loncat ke sungai dan mandi-mandi  dan juga nggak sekedar ber-jungle trekking dan berjumpa Orang Utan saja. Tapi, kita akan datang dengan karung di tangan, sapu dan tongkat-tongkat dan tak lupa buah-buahan buat oleh-oleh untuk si Orang Utan. Akan kita sulap kawasan TNGL menjadi bebas sampah dengan karung dan tongkat-tongkat tadi.

“Kita akan berbagi waktu dengan alam dan merawatnya.”

Kita dan alam punya hubungan semacam simbiosis mutualisme. Kadang hubungan ini tak adil. Dari sekian banyak keuntungan yang kita dapat dari alam, kita hanya perlu menjaganya. Tidak melakukan apapun terhadap alam saja itu sudah cukup membantu.


Persiapan kami mulai dengan mencari lembaga konservasi Orang Hutan hingga Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Niat baik ini disambut baik oleh pihak TNGL bersamaan dengan dikeluarkannya Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi. Hunting dan persiapan peralatan siap, kami pun meluncur ke Bukit Lawang.

Dari Medan, Bukit Lawang berjaraka sekitar 86 km. Menggunakan Bus besar, perjalanan bisa memakan waktu hampir empat jam.

TNGL yang terletak di Bukit Lawang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara ini menyimpan banyak kekayaan alam sekaligus menjadi rumah bagi berbagai satwa. Mulai dari Orang Utan, Siamang, Beruk, Harimau Sumatera, Gajah, Beruang madu dan beberapa hewan lainnya.

Satwa-satwa yang sering kelihatan di kawasan ini adalah Gajah, Monyet Ekor Panjang, Beruk, Siamang dan Orang Utan. Kehadiran satwa-satwa ini tentu menjadi daya tarik wisatawan untuk melihat saudara-saudaranya di sana. Ditambah panorama yang indah dan sungai yang bisa menawarkan berbagai macam kegiatan seperti tubing.

Namun, daya tarik ini meninggalkan kekhawatiran. Untuk keadaan di luar kawasanan TNGL pengunjung yang datang tak sedikti yang bersuka ria meninggalkan jejak. Mungkin mereka kira akan dikenang dengan peninggalan-peninggalan mereka. Peninggalan-peninggalan tersebut berupa popok bayi yang dilempar ke sungai,plastik makanan, dan sampah-sampah lainnya. Masalah klasik.

Belum lagi keadaan di dalam hutan. Penebangan liar masih berlangsung dengan diam-diam. Banjir besar yang sempat melumpuhkan pemukiman warga sekitar Sungai Bahorok tak membuat para penebang liar sadar. Kayu-kayu jarahan dari TNGL masih jadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Melihat kondisi ini apa yang bisa kita lakukan? Mungkin kita tidak memiliki pengaruh besar untuk mencegah semua kerusakan tersebut. Tapi, Dari hal terkecil yang bisa kita upayakan, kegiatan tersebut pasti akan berpengaruh. Minimal sebuah kesadaran untuk diri kita sendiri.

Kita lanjut saja dengan kegiatan kami tadi. Ditemani empat orang ranger,  kami berkumpul di depan gerbang masuk kawasan TNGL pada pukul tujuh pagi. Setiap satu atau dua orang diberikan satu karung sebagai wadah sampah. Kegiatan memungut sampah ini kami mulai di pinggiran sungai. Jumlah kami cukup banyak, yaitu sekitar 25 orang. Ditambah beberapa anak-anak setempat yang tergoda untuk ikut bergabung dalam kegiatan tersebut. ternyata semangat bisa menular ya.

Sebentar saja, karung-karung kami sudah mulai penuh dengan sampah. Isinya beragam. Sampah plastik mendominasi.

Setelah selesai dengan kawasan sungai, dengan bantuan sampan kecil kami menyebarang untuk masuk kawasan TNGL. Di sana, kami dibagi menjadi dua kelompok.

Jalur yang akan kami lewati  merupakan jalur jungle trekking Orang Utan. Sambil pungut sampah, sambil liat Orang Utan. Untunglah sampah di dalam hutan tak sebanyak sampah di pinggir sungai. Rata-rata sampah yang ada adalah bungkus permen, puntung rokok hingga sandal-sandal yang lepas.

 “Ssst, jangan menimbulkan suara. Pelan-pelan dan lihat ke atas,” kata ranger kami. Ternyata seekor Orang Utan besar tengah asyik bertengger di dahan pohon. Sementara beberapa meter di depan, ada seekor burung cantik berwarna biru. Ukurannya sebesar ayam. Saya tak tahu burung apa namanya.
Tujuan kami sampai spot pemberian makan Orang Utan. Karena itulah jalur yang sering dilewati manusia.

Setelah selesai, kami  kembali ke tepi sungai dan... kembali bersenang-senang. Ada yang mandi di bawah air terjun, ada yang melompat dari batu di tepi sungai, ada yang melamun, ada yang berfoto-foto ria, ada yang hilang, ada yang diem-diem lari ke hutan, macam-macam.

Penutup kegiatan ini kami makan siang di tepi sungai. Makan dibawah pohon-pohon besar dengan mata yang awas melihat-lihat jangan sampai makanan kami dicuri monyet-monyet yang mulai keluar dari hutan.

Sederhana kan yang kami lakukan. Siapa saja bisa lakukan kegiatan seperti ini. Bayangkan saja jika setiap pejalan yang mengunjungi suatu tempat melakukan setidaknya sedikit saja kegiatan bermanfaat.

Dulu, kami tak tahu kalau kegiatan semacam ini disebut Voluntourism. Tak apa, yang penting kegiatan positif ini telah lama kami coba lakukan.

Mungkin nggak sekeren komunitas lainnya yang pergi jauh-jauh ke wilayah pelosok negeri ini. Yang bisa jauh ke wilayah timur Indonesia untuk mengajar, membangun desa atau kegiatan besar lainnya. Tapi kita udah cukup keren kok dengan ber-voluntourism dengan modal nol alias nyumbang tenaga aja. Dan, gak usah repot-repot liat dan cari daerah orang yang butuh bantuan. Liat aja daerah kamu sendiri dulu. Pasti ada aja yang bisa dibantu.  Kan lumayan, sambil jalan-jalan, promosi wisata daerah lewat tulisan, melakukan kegiatan yang membantu tempat dan warga sekitar.

Inilah yang bisa kami kasih untuk TNGL sebagai hutan lindung yang berfungsi  sebagai paru-paru dunia sekaligus rumah bagi hewan endemik Indonesia, Orang Utan. Hadiah sederhana untuk paru-paru dunia dan rumah Orang Utan.  


Hadiah Sederhana Untuk Paru-Paru Dunia dan Rumah Orang Utan

Minggu, 07 Juli 2013


            Sumatera masih punya kerajaan, masih punya istana. Usianya 125 tahun, masih berdiri kokoh ditengah keramaian kota Medan. Sebuah Istana yang berdiri di puncak kejayaan Kerajaan Deli. Hingga sekarang ia tetap Istana yang memiliki Raja.

Ekspansi kekuasaan bangsa Belanda pada pertengahan abad 19 berhasil merambah hingga ke Sumatera Timur. Modal besar yang Belanda peroleh dari mancanegara menjadikannya mampu membuka perkebunan tembakau di atas hutan Sumatera Timur, dinamakan Deli Maatschapij. Berhasilnya Belanda mengelolah perkebunan tersebut tak lepas dari peran Sulthan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah, Raja Deli ke VIII yang menyepakati kerja sama pembukaan lahan oleh Belanda pada tahun 1870. Inilah cikal bakal masa jaya masyarakat Deli pada masa itu.
Berangkat dari tahun 1870 an, perkebunan berkembang subur hingga mampu menyokong perekonomian Belanda dan Kesultanan Deli. Medan pada saat itu mengembangkan gaya hidup feodalistis. Kesultanan Deli hingga Kesultanan Melayu secara keseluruhan tidak perlu bekerja keras untuk kaya secara finansial, mengingat segala kerja keras telah dilakukan pihak Deli Maatschapij (tabloid SUARA USU edisi 85).
Dari seorang pemandu wisata Istana Maimoon, Is didukung oleh Studi Tehnis Pemanfaatan Istana Maimoon Medan didapatkan penjelasan. Pada tahun 1974, kepemimpinan Deli dinobatkan pada Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang masih muda. Pada masa ini, perdagangan tembakau berada pada masa jaya hingga membawa kemakmuran kesultanan mencapai puncaknya. Sulthan memindahkan pusat kerajaan dari Pelabuhan Belawan ke Medan dan membangun singgasananya.
 Saat kemakmuran sudah berada ditangan, berbagai bangunan mulai dibangun termasuk Sekolah Arab yang sekarang dinamakan Madrasah. Satu bangunan mewah yang menjadi bukti kejayaan Kesultanan Deli pada masa itu pun ikut dibangun. Sebuah Istana dengan luas 2772 m2 dibangun di lahan seluas lima hektar pada 1888 dan diresmikan pada 1891. Bangunan ini terdiri dari tiga bagian, bagian utama, bagian kanan dan kiri. Istana Maimoon namanya. Menurut Is, pemandu wisata yang berada di Istana Maimoon, nama Istana diambil dari nama istri Sulthan yaitu Siti Maimunah “kisahnya memang mirip sama kerajaan India, Taj Mahal,” kata Is.
Istana Maimoon didesain oleh arsitektur yang juga seorang tentara KNIL. Desainnya mengikuti berbagai gaya. Mulai dari gaya istana tradisioanal melayu, gaya India Islam, dan sedikit gaya Eropa. Berhubung kesultanan merupakan khalifah atau penyebar agama islam, gaya islami terlihat di bangunan ini. Keseluruhan bangunan terlihat seperti mesjid, istana-istana di timur tengah pada masa lampau.
Pada 1924, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah meninggal. Kesultanan diwarisi pada anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, kepemipinan bangsa Indonesia mulai dipegang oleh pemerintah. Meski begitu, kesultanan melayu tetap berjalan. “sultan bukan penguasa daerah, tapi untuk adat,” kata Is. Sekarang Kesultanan Deli dipangku oleh Sulthan Mahmud Arya Lamantutu Perkasa Alam yang masih berusia 13 tahun.
Istana Maimoon terletak di Jl. Brigjen Katamso Kecamatan Medan Baru, Medan. sekarang Istana Maimoon dihuni oleh keluarga sultan pada bagian kiri dan kanannya. Bagian utama istana bisa dikunjungi oleh masyarakat dengan membayar biaya pemeliharaan sebesar Rp 5000.
Istana Maimoon dikelilingi pagar besi setinggi satu meter. Bentuk bangunannya dari luar telihat petak dengan atap berkubah seperti mesjid. Warna hijau dan kuning mendominasi bangunan ini. Untuk bangunan islam melayu warna kuning dan hijau memang sering digunakan, sama seperti mesjid tertua di Medan, masjid Al-Osman yang juga didominasi warna hijau dan kuning. Hal ini dikarenakan warna hijau melambangkan simbol agama dan hidup daya, sementara kuning melambangkan kearifan, kebijaksanaan dan mulia.
Saat memasuki gerbang istana, sebuah pedati tua milik kesultanan parkir di halaman istana, warnanya cukup usang tapi mewah. Jalanan istana akan menuntun hingga ke tangga utama istana. Tangganya terbuat dari keramik yang didatangkan dari eropa. Keramik mahal tentunya. Setelah melewati tangga, akan ada teras istana, teras ini terbentang di kedua sisi kanan dan kiri tangga. Ada kursi dan meja di setiap terasnya. Ruang pertama yang ditemui saat masuk Istana adalah ruang berukuran sekitar 4x4 m yang di samping kiri dan dan kanannya ada kamar. Lurus dengan pintu utama, ada satu pintu lagi yang menghantarkan ke ruang utama. Sebuah ruang besar berukuran 412 m 2 dulunya ruangan ini digunakan sebagai balairung. Di ruang ini terdapat satu set lampu kristal buatan eropa yang cukup besar dan mencolok. Di dinding terdapat banyak tulisan-tulisan arab dan terdapat ukiran-ukiran bermotif geometris dan florist, begitu juga di plafonnya.
Di bagian kiri balairung terdapat singgasana sulthan yang berwarna kuning keemasan. Singgasan ini berbentuk persegi panjang lengkap dengan kubah-kubah diatasnya. Sekarang, dalam setahun dua kali sultan akan duduk di singgasan tersebut yaitu saat hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di ruangan yang sama, banyak terdapat gambar-gambar Sulthan deli terdahulu dan ada juga sebuah cermin besar berbingkai warna keemasan. di sebelah kanan ruang utama, tersimpan lemari yang isinya pakaian yang pernah digunakan sulthan, dan beberapa keris dan alat musik melayu yang disimpan di dalam kotak kaca.
Lalu ada ruangan terakhir setelah ruang utama. Di sini, ada sepasang kursi raja dan ratu yang bisa diduduki oleh pengunjung. Di sudut ruangan juga terdapat lemari-lemari lama peninggalan zaman kesultanan.
Yovi Lusiana, salah seorang pengunjung dari Bandar lampung mengatakan, Istana Maimun akan lebih bagus jika tak ada penjual souvenir di dalamnya, selain itu untuk setiap benda-bena yang ada harusnya dilengkapi dengan tulisan keterangan penjelas tentang benda tersebut.
Menaggapi hal ini, Is  bilang sesegera mungkin para penjual yang merupakan keluarga sultan ini akan dipindahkan keluar. Dalam sehari pengunjung istana cukup ramai. Pengunjung biasanya berasal dari lokal, malaysia, dan turis-turis asing lainnya.
Istana Maimoon sekarang masuk dalam cagar budaya yang dilindungi di Indonesia. inilah satu peninggalan berharga yang dibuat pada masa puncak kejayaan Kerajaan Deli dis masa Kolonial.



Istana Maimoon, Simbol Puncak Kejayaan Kesultanan Deli

Senin, 21 Januari 2013

          


“Apa yang anda pikirkan saat mendengar nama kota Bengkulu sekarang? Pantainya yang indah? Bangunan bersejarah? atau keduanya?. Terfikirkah untuk menikmati indahnya pantai dari atas bangunan bersejarah?. Bisa anda dapatkan di kota panas bernama Bengkulu ini, yaitu di Fort Marlborough atau biasa disebut Benteng Marlborough oleh masyarakat setempat.”

            Dahulu bangsa Eropa mengenal Bengkulu sebagai daerah monopoli lada dan pusat perdagangan. Bangsa Eropa mendatangi Bengkulu untuk hubungan dagang. Setelah kepergian Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), Hindia Timur Belanda tahun 1670, Inggris melalui East India Company (EIC) datang tahun 1685. Kolonial Inggris menguasai Bengkulu selama 140 tahun, terhitung mulai dari tahun 1685 dan berakhir pada tahun 1825 dengan adanya perjanjian London (Treaty of London) yang berisi penyerahan daerah kekuasaan Inggris kepada Belanda.

            Pada masa Inggris berkuasa, Inggris membangun sarana dan prasarana untuk menunjang imperialismenya di Bengkulu. Salah satu yang dibangunnya adalah benteng Marlborough dengan gaya Eropa untuk mempertahankan kekuasaan Inggris di kawasan pantai barat Sumatera dari ancaman Belanda. Selain itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan daerah Bengkulu sebagai daerah monopoli lada dan pusat perdagangan.

            Benteng Marlborough. Letaknya yang berdekatan dengan pusat kota memudahkan anda untuk menjangkaunya. Cukup dengan mengendarai kendaraan pribadi atau angkutan umum ke Desa Kebon Keling, Kelurahan Kampung Cina, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.

            Disana anda akan disambut oleh tiga persimpangan yang bisa membuat anda bimbang. Sebab simpangan pertama adalah Taman Tapak Paderi yang menawarkan keindahan Pantai Tapak Paderi, simpangan kedua akan menghantarkan anda ke jalan menuju Benteng Marlborough yang menawarkan keangkuhan bangunan tuanya, dan simpangan terakhir akan menghantarkan anda ke perkampungan cina.

            Anda bisa menikmati semuanya jika  memilih persimpangan menuju Benteng Marlborough. Cukup berjalan beberapa meter dari simpangan tersebut, anda akan mendapati gerbang masuk Benteng  Marlborough. Dengan membayar uang tiket masuk seharga Rp 2.500,00 anda bisa memulai penjelajahan di Benteng Marlborough.

            Benteng Marlborough berdiri kokoh di lahan seluas 44.100 meter persegi yang dikelilingi parit-parit besar sebagai batasnya. Benteng ini berbentuk kura-kura dengan kepala menghadap ke arah barat daya. Pada bagian kepala dan badan dihubungkan oleh jembatan yang tampak seperti bagian leher kura-kura. Anda akan memulai penjelajahan melalui pintu masuk yang dihubungkan oleh jembatan di sisi kanan mata kura-kura. Pintu masuk juga terdapat di bagian belakang benteng yang duhubungkan dengan jembatan yang membentuk bagian ekor kura-kura. Dulunya jembatan itu bisa diangkat dan diturunkan.

            Masuk melalui mata ataupun ekor sama saja, anda akan menemukan badan benteng didalamnya. Pada bagian dalam benteng ada beberapa bangunan memanjang yang dulunya adalah tempat penyimpanan senjata, ruang tahanan, perkantoran, serta halaman terbuka yang ditumbuhi rerumputan hijau. Ruang tahanan berupa ruang berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter yang berpintu jeruji besi yang jumlahnya cukup banyak terdapat di dalam setiap ruangan.

            Angin pantai jelas terasa saat anda berada di benteng ini, apalagi jika anda sedikit bergeser menuju tepian badan benteng. Deru ombak akan semakin kuat memanggil anda. Mata akan dimanjakan dengan pemandangan pantai Tapak Paderi dan laut luas yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

            Setelah puas anda berkeliling di bagian kepala dan badan benteng ini , anda bisa melanjutkan penjelajahan ke bagian kaki benteng yang merupakan bagian kaki kura-kura. Di setiap kaki kura-kura berfungsi sebagai Bastion yaitu bagian yang terdapat beberapa meriam berukuran kecil dan besar. Banyak pengunjung yang duduk di beton yang mengitari meriam sembari memandang laut. Di bagian bawah kaki kura-kura terdapat terowongan berukuran 6x2 meter yang dulunya digunakan sebagai jalan keluar dari kepungan musuh.

            Melanjutkan penjelajahan ke bagian belakang benteng yaitu bagian ekor. Disana anda akan menemukan tiga buah makam, yaitu makam Thomas Parr, Charles Muray dan satu makam tak dikenal. Di belakang pintu gerbang masuk terpajang empat buah prasasti nisan dalam bahasa Inggris yang artinya George Thomas Shaw yang meninggal tanggal 25 April 1702, Richard Watts yang meninggal 17 Desember 1705 dalam usia 44 tahun, Henry Stirling yang meninggal pada bulan April 1744 dalam usia 25 tahun dan yang terakhir bertuliskan Capt.James Coney yang meninggal Februari 1737 dalam usia 36 tahun.

            Kepuasan anda berwisata akan semakin lengkap jika anda mau sedikit menunggu senja hari datang. Saat senja langit akan berubah kemerah-merahan, matahari dari balik awan mulai bersembunyi dibelakang laut, burung-burung terbang menambah keindahannya. Sunset, anda akan menikmati Sunset atau terbenamnya matahari dari atas benteng. Suasana nyaman dan romantis akan senantiasa merasuk ke jiwa anda menenangkan hati dan fikiran. Atau anda bisa turun langsung di pinggiran pantai di sebelah benteng untuk sekedar duduk sambil menikmati jagung bakar yang banyak dijajakan di pinggir pantai.

            Dengan biaya yang sangat murah, anda bisa mendapatkan pengetahuan sejarah, pemandangan indah, dan suasana Eropa di sini. Menarik bukan?

tulisan ini telah dipublikasikan di online Pers Mahasiswa SUARA USU 
suarausu.co


Menjelajahi Jejak Peninggalan di Masa Penjajahan